TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Tim Jokowi-Jusuf Kalla Poempida Hidayatullah berkomentar atas sindiran tentang "Bedak dan Gincu Pemerintah". Sebutan lainnya, karakter "Feminin bangsa Indonesia" ala Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) alias Pencitraan semata dan kekhawatiran terhadap Pemerintahan Jokowi-JK mendatang.
"Saya melihatnya, sebagai pemimpin bangsa ini, di antara tujuannya, SBY ingin menampilkan bangsa Indonesia di kawasan regional dan internasional sebagai bangsa ramah dengan mengupayakan stabilitas dan keberlanjutan hubungan," kata Poempida dalam keterangannya, Minggu (7/9/2014).
Menurut Poempida, tidak ada yang salah dengan karakter feminin, lembut, dan menjauhi konflik. Selain itu juga tidak ada yang salah dengan kualitas karakter maskulin seperti tangguh, keras, dan menyerang. "Yang penting adalah penggunaannya harus tepat disesuaikan dengan konteksnya," kata Anggota Komisi IX DPR itu.
Poempida yakin dan percaya dengan semakin matangnya kualitas karakter para Pemimpin Indonesia saat ini berdasarkan pengalaman dan pembelajaran dari para pendahulu sebelumnya, dari masa ke masa. Maka kualitas maskulinitas bangsa Indonesia yang sudah teruji oleh sejarah sebagai yang disegani dan tidak mudah didikte meski diterpa berbagai macam lapis krisis akan menguat dan semakin kuat kedepan.
"Salam Hormat saya kepada seluruh Presiden dan Wakil Presiden Indonesia dari masa ke masa. Indonesia menjadi seperti saat ini dengan segala kelebihannya dan juga segala yang masih sangat bisa diperbaiki lagi adalah karena sentuhan Feminin dan Maskulin beliau-beliau. Saya bangga menjadi bagian dari sejarah dan perjalanan Indonesia menuju kebesarannya," ungkapnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar